Kurasi, Sukabumi — Seporsi iga bakar penyet tersaji menggugah selera. Daging iga berwarna kecokelatan dengan aroma asap berpadu bumbu rempah yang melimpah. Tekstur dagingnya empuk, tetapi tetap memiliki bagian luar yang renyah berkat proses karamelisasi bumbu bercita rasa manis dan gurih.
Proses pengolahan yang dilakukan secara optimal membuat daging iga mudah terlepas dari tulangnya. Sensasi rasa semakin lengkap ketika iga bakar tersebut dipenyet bersama sambal segar dalam jumlah melimpah.
Perpaduan rasa manis, pedas, dan gurih memberikan sensasi tersendiri dalam setiap suapan.
Iga Bakar Penyet menjadi salah satu menu andalan Ramela Restaurant yang berada di Hotel Bountie, Kota Sukabumi. Dari berbagai pilihan hidangan yang tersedia, menu tersebut menjadi salah satu yang paling diminati pengunjung.
General Manager Ramela Restaurant, Abdul Najib, mengatakan Iga Bakar Penyet menjadi salah satu menu favorit karena memiliki cita rasa dan tekstur yang khas.
“Iga bakar penyet kita dibakar dengan bumbu khas Ramela. Teksturnya sangat lembut sampai mudah lepas dari tulang, jadi tidak perlu usaha keras untuk menyantapnya. Rasanya cenderung manis gurih mirip sate Madura, lalu disiram dengan sambal khusus yang tidak ada di tempat lain,” ujar Najib.
Menurut Najib, proses pengolahan hingga penyajian Iga Bakar Penyet dilakukan dengan perhatian khusus. Kualitas bahan baku dijaga dan proses memasak berada di bawah pengawasan executive chef.
Pengaturan suhu api menjadi salah satu faktor penting dalam menghasilkan cita rasa yang konsisten. Api yang terlalu besar dapat membuat rasa asap terlalu kuat, sedangkan api yang terlalu kecil dinilai kurang menghasilkan karakter rasa yang diinginkan.
“Metode masak, apinya jangan kebesaran atau kekecilan. Itu juga berpengaruh kepada rasa. Nanti terlalu smoky juga salah, tapi kalau apinya kekecilan nanti malah enggak dapat rasanya,” ungkapnya.
Selain Iga Bakar Penyet, Ramela Restaurant menawarkan beragam hidangan khas Nusantara. Di antaranya Empal Gentong khas Cirebon, gado-gado, aneka kreasi nasi goreng, hingga berbagai sajian khas Manado.
Ramela Restaurant juga menawarkan konsep berbeda dengan jam operasional selama 24 jam. Kehadiran restoran ini menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat maupun tamu hotel yang ingin menikmati hidangan Nusantara, termasuk pada malam hari.
Najib menilai keberagaman kuliner Nusantara perlu terus dipertahankan di tengah semakin beragamnya pilihan makanan mancanegara.
Menurutnya, masakan Indonesia memiliki karakter dan kedekatan tersendiri dengan masyarakat karena merupakan bagian dari budaya kuliner yang telah diwariskan secara turun-temurun.
“Kalau menu Indonesia atau masakan Indonesia itu sustain, ya. Artinya dia bisa bertahan lama karena kita ini orang Indonesia,” jelasnya.
Ramela Restaurant merupakan restoran yang baru hadir di kawasan Hotel Bountie, Kota Sukabumi. Mengusung konsep Cultural Art of Indonesia, restoran ini menyajikan hidangan khas Nusantara dari berbagai daerah di Indonesia.
Konsep tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kekayaan kuliner Indonesia dalam satu tempat, sekaligus memperkenalkan beragam cita rasa Nusantara kepada masyarakat dan para tamu yang berkunjung ke Kota Sukabumi.