BMKG Ungkap Penyebab Cuaca Ekstrem di Bandung Barat, Warga Diminta Waspada

Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung Barat — Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan cuaca ekstrem yang melanda Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, dipicu oleh masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan.

Cuaca ekstrem berupa hujan deras disertai angin puting beliung pada Senin (26/10/2026) menyebabkan lebih dari 500 rumah dan fasilitas umum di Kecamatan Padalarang mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan hingga berat.

Ketua Tim Meteorologi dan Klimatologi Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Muhamad Iid Mujtahiddin, mengatakan fenomena cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es berpotensi terjadi selama masa peralihan musim.

“Hujan lebat atau ekstrem, angin kencang, angin puting beliung, atau juga hujan es ini bisa terjadi selama masa transisi. Bisa dibilang masuk peralihan musim dan tidak ada batasan. Musim hujan diprediksi dasarian dua bulan November ini,” ungkap Iid saat dihubungi, Selasa (27/10/2026).

Menurut Iid, secara umum sebagian wilayah Jawa Barat, termasuk Kabupaten Bandung Barat, berpotensi mengalami hujan dengan intensitas ringan. Namun, hujan sedang hingga lebat yang disertai kilat atau petir dan angin kencang juga berpeluang terjadi secara lokal dengan durasi singkat.

Ia menjelaskan, kondisi atmosfer dalam beberapa hari ke depan masih mendukung pertumbuhan awan hujan. Kelembapan udara pada lapisan 700 milibar atau sekitar 3,5 kilometer di atas permukaan laut terpantau relatif tinggi.

“Selama beberapa hari ke depan, kondisi kelembapannya di ketinggian 700 mb atau 3,5 km di atas permukaan laut relatif cukup lembap. Ini mendukung adanya potensi pertumbuhan awan hujan,” kata Iid.

Sejumlah Fenomena Atmosfer Picu Potensi Hujan

Iid menjelaskan, potensi pertumbuhan awan konvektif dan peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Jawa Barat dipengaruhi beberapa faktor atmosfer.

Suhu muka laut yang relatif hangat mendukung pasokan uap air ke atmosfer. Selain itu, gelombang atmosfer Rossby Ekuator dan fenomena Madden-Julian Oscillation (MJO) diprakirakan terpantau aktif di wilayah Jawa Barat.

Kondisi tersebut diperkuat oleh tingkat labilitas atmosfer yang berada pada kategori sedang hingga kuat. Situasi ini mengindikasikan adanya peluang pertumbuhan awan konvektif secara lokal yang dapat memicu hujan lebat dan cuaca ekstrem.

“Selain itu, kondisi labilitas atmosfer yang berada pada kategori labil sedang hingga kuat turut mengindikasikan adanya peluang pertumbuhan awan konvektif pada skala lokal,” jelasnya.

El Nino Diperkirakan Berlangsung hingga Awal Tahun Depan

Meski wilayah Jawa Barat mulai memasuki masa peralihan menuju musim hujan, Iid mengatakan kondisi cuaca saat ini masih dipengaruhi fenomena El Nino.

Fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027. Namun, intensitasnya diprakirakan mulai menurun pada November, Desember, hingga Januari.

“El Nino diprediksi sampai awal tahun masih dalam posisi sangat kuat. Nanti November, Desember, Januari mulai menurun,” ujarnya.

Masyarakat Diminta Waspada Bencana Hidrometeorologi

BMKG mengimbau masyarakat dan instansi terkait untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu.

Potensi hujan lebat hingga sangat lebat, angin kencang, banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang perlu diantisipasi, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan bencana hidrometeorologi.

Iid meminta masyarakat tetap tenang, tetapi tidak mengabaikan potensi bahaya akibat kondisi cuaca ekstrem.

Ia juga mengingatkan warga agar mengenali risiko bencana di lingkungan masing-masing, memperbarui informasi prakiraan cuaca, serta mengikuti arahan pemerintah daerah apabila terjadi keadaan darurat.

Masyarakat yang berada di wilayah rawan bencana diharapkan memahami jalur dan prosedur evakuasi guna meminimalkan risiko serta dampak yang ditimbulkan oleh cuaca ekstrem.(KURASI)

Baca juga: 

Puting Beliung Terjang Padalarang, 522 Rumah Rusak dan Sejumlah Fasilitas Umum Terdampak