Kurasi, Bandung – Dinas Kesehatan Jawa Barat (Dinkes Jabar) menyebut ada empat penyakit yang biasa muncul saat kemarau ekstrem, di antaranya diare, inspeksi saluran pernafasan (ISPA), dehidrasi dan malnutrisi.
Menurut Kepala Dinkes Jabar Vini Adiani Dewi, adanya ancaman penyakit saat kemarau ekstrem tersebut masyarakat dianjurkan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari berbagai penyakit saat musim kemarau yang tahun ini diprediksi lebih kering dan panjang.
“Musim kemarau ekstrem mengakibatkan pasokan air bersih menurun sehingga kebersihan berkurang. Kondisi itu menjadikan virus dan bakteri terkonsentrasi sehingga beberapa penyakit berkembang, seperti diare,” ujar Vini dalam siaran medianya ditulis Rabu (23/9/2026).
Selain air bersih berkurang, Vini mengatakan musim kemarau juga biasanya disertai kondisi udara yang lembab. Hal itu berisiko mengakibatkan dehidrasi atau tubuh kehilangan cairan saat suhu tinggi. Waspadai pula kondisi suhu tubuh meningkat secara drastis (heatstroke).
“Apabila mengalami gejala suhu tubuh lebih dari 40 derajat celcius, kulit panas dan merah, pusing, muntah, segera cari pertolongan medis,” ucap Vini.
Penyakit lain yang biasanya menyerang tubuh saat kemarau adalah ISPA. Penyakit tersebut muncul karena asap dan kualitas udara yang buruk saat kemarau.
Kemarau panjang juga mengakibatkan kekeringan sehingga mengurangi produksi pangan. Malnutrisi merupakan kondisi yang bisa muncul karena kondisi itu.
“Masyarakat diimbau melakukan langkah preventif, seperti minum dan istirahat yang cukup, menggunakan payung atau topi saat beraktivitas di bawah terik Matahari serta mengonsumsi makanan bergizi,” kata Vini
Langkah penting lain yang perlu dilakukan yakni menjaga kebersihan lingkungan dan menanam pohon.
“Jangan membakar sampah dan lahan,” sebut Vini.
*Bandung hingga Bekasi Bersiap Hadapi Kondisi Sangat Kering*
Sebelumnya, Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi peluang terjadinya kemarau panjang pada 2026 mencapai 81 persen dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Sejumlah wilayah di Jawa Barat, mulai dari kawasan pesisir dan industri seperti Bekasi dan Cirebon, wilayah agraris Kuningan, hingga wilayah dataran tinggi seperti Kota Bandung, kini masuk dalam radar zona potensial terdampak kekeringan ekstrem.
“El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” ujar Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dicuplik dari laman BRIN.
Albertus menjelaskan bahwa meskipun intensitas El Niño tahun ini masuk dalam kategori moderat, dampaknya terhadap durasi musim kemarau di Indonesia tetap signifikan. Curah hujan diproyeksikan akan merosot tajam di bawah batas normal.
Sebelumnya disebutkan ancaman badai iklim ekstrem “Godzilla El Niño” dipastikan kecil terjadi tahun ini, masyarakat di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, harus bersiap menghadapi musim kemarau yang jauh lebih panjang dari biasanya.
“Hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan El Niño super kuat atau Godzilla El Niño yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015,” kata Albertus.
*Antisipasi Dampak Wilayah*
Berdasarkan prediksi BRIN lanjut Albertus, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering.
Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen. Faktor ilmiah yang membuat Indonesia terhindar dari Godzilla El Niño tahun ini adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia yang terpantau stabil.
“Peluang munculnya Godzilla El Niño tahun ini sangat kecil karena beberapa faktor ilmiah. Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase posisi normal (neutral), diprediksi hingga April 2027,” terang Albertus.
Selain itu, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023–2024, sehingga secara fisik lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Niño super ekstrem dalam waktu yang berdekatan.
Pemerintah daerah di wilayah terdampak, khususnya di Jawa Barat, diharapkan segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari manajemen cadangan air di waduk, antisipasi kegagalan panen (puso), hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat durasi kemarau yang lebih panjang.