Kurasi, Sukabumi — Musim kemarau mulai berdampak terhadap ketersediaan air bersih di Kelurahan Warudoyong, Kecamatan Warudoyong, Kota Sukabumi, Jawa Barat. Sejumlah warga mulai kesulitan memperoleh air, terutama untuk memenuhi kebutuhan memasak.
Lurah Warudoyong, Nuke Nurulaini, mengatakan sumur milik warga hingga kini belum sepenuhnya mengering. Namun, debit dan aliran air mulai menurun sehingga pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat mulai terganggu.
“Sumur-sumur warga memang tidak habis sama sekali, tetapi untuk pengaliran air itu sudah mulai defisit. Kalau terus berkepanjangan, ke depan kami akan kembali meminta pendistribusian air bersih,” ujar Nuke saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (24/9/2026).
Menurut Nuke, permintaan bantuan air bersih sejauh ini paling banyak datang dari warga RT 4 RW 3 dan RW 5. Pemerintah Kelurahan Warudoyong sebelumnya telah berkoordinasi dengan Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Sukabumi untuk mendistribusikan air kepada warga terdampak.
Satu tangki air berkapasitas sekitar 8.000 liter telah disalurkan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Namun, distribusi air menghadapi kendala karena sebagian besar permukiman warga berada di dalam gang sempit yang tidak dapat dilalui kendaraan pengangkut air.
“Yang agak menjadi masalah di Kelurahan Warudoyong karena warga banyak di dalam gang. Mobil pengangkut air sulit masuk, sehingga pengangkutannya cukup jauh. Warga akhirnya hanya mendapatkan beberapa galon atau ember,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi kondisi yang semakin parah, Kelurahan Warudoyong berencana memperluas koordinasi dengan sejumlah pihak, di antaranya Perumda Air Minum (PDAM), Polres Sukabumi Kota, serta PMI.
Kelurahan juga berharap dukungan dari PT Inaco dapat diperluas ke wilayah RW lainnya yang mulai terdampak kekeringan, khususnya kawasan yang berada di sekitar RW 5.
Nuke menyebut, hingga kini belum banyak permintaan resmi terkait pendistribusian air bersih. Kendati demikian, secara lisan sejumlah warga mulai menyampaikan keluhan karena sumber air semakin sulit diperoleh.
“Yang banyak meminta bantuan itu dari RT 4 RW 3 dan RW 5. Sampai saat ini belum ada permintaan dari warga lain, walaupun secara lisan masih ada warga yang melaporkan air mulai susah,” katanya.
Dampak kekeringan tidak hanya dirasakan dari sisi ketersediaan air, tetapi juga mulai menambah beban pengeluaran rumah tangga.
Untuk kebutuhan mandi dan mencuci, sebagian warga masih dapat memanfaatkan sumber air yang tersedia. Namun, untuk kebutuhan memasak, sejumlah warga mulai terpaksa membeli air isi ulang.
“Terutama untuk kebutuhan sehari-hari, air bersih untuk memasak mereka terpaksa beli. Ini sedikit mengganggu ketahanan ekonomi warga karena harus mengeluarkan biaya tambahan khusus untuk membeli air bersih,” ungkap Nuke.
Kondisi tersebut menjadi perhatian Pemerintah Kelurahan Warudoyong apabila musim kemarau berlangsung lebih lama. Distribusi air bersih dinilai perlu dipersiapkan kembali guna memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi, terutama bagi warga yang sumber airnya mulai mengalami penurunan debit.