Kemarau Panjang di Bandung Barat, Peternak Berburu Rumput Hingga Luar Daerah

Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung Barat – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Bandung Barat (KBB) mulai berdampak terhadap ketersediaan hijauan pakan ternak.

Sejumlah peternak ruminansia bahkan harus mencari rumput hingga ke luar daerah untuk memenuhi kebutuhan pakan ternaknya.

Kondisi tersebut mulai terasa sejak Juni-Juli 2026 dan memasuki periode puncak pada Agustus-September. Dampak paling dirasakan peternak yang masih mengandalkan rumput segar sebagai sumber utama pakan ternak.

Kepala Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan) KBB, drh. Wiwin Aprianti, mengatakan, berdasarkan pemantauan pihaknya, kondisi sumber air untuk ternak sejauh ini masih relatif aman.

Namun, persoalan mulai muncul pada ketersediaan hijauan pakan yang semakin terbatas akibat musim kemarau berkepanjangan.

“Untuk air masih relatif aman, tetapi yang perlu diantisipasi adalah ketersediaan hijauan pakan ternak,” kata Wiwin, saat ditemui di kantor, Kamis 24 September 2026.

Wiwin menyebut, berdasarkan hasil wawancara dengan sejumlah peternak, pemberian hijauan pada sebagian ternak dapat berkurang hingga sekitar 50 persen ketika kemarau berlangsung cukup panjang.

Kondisi tersebut membuat peternak mulai mencari alternatif pakan, salah satunya dengan memanfaatkan jerami padi kering. Namun, kualitas nutrisi jerami kering dinilai lebih rendah dibandingkan hijauan segar.

Keterbatasan pakan hijauan juga dipengaruhi belum optimalnya pengelolaan sebagian kebun rumput serta masih terbatasnya peternak yang secara khusus menanam hijauan unggul.

Pada musim penghujan, kebutuhan rumput relatif mudah dipenuhi. Namun, ketika kemarau berkepanjangan, sebagian peternak terpaksa mencari pakan hingga ke luar Kabupaten Bandung Barat, seperti Subang, Purwakarta, dan Sumedang.

Harga Pakan Ternak Mulai Naik

Dikatakan Wiwin, Kelangkaan hijauan turut berdampak terhadap harga sejumlah jenis pakan ternak. Harga tebon jagung yang sebelumnya berada di kisaran Rp800 per kilogram kini meningkat menjadi sekitar Rp900 per kilogram.

Sementara itu, harga rumput odot juga mengalami kenaikan dari sekitar Rp750 menjadi Rp900 per kilogram.

Kenaikan harga tersebut belum sepenuhnya menjamin ketersediaan pakan. Sebab, para produsen rumput juga menghadapi persoalan serupa berupa terbatasnya stok akibat kondisi kemarau.

“Bagi peternak, kondisi ini menjadi tantangan karena biaya produksi meningkat sementara ketersediaan pakan belum sepenuhnya aman,” jelasnya.

Puluhan Ribu Ternak Ruminansia Terancam Terdampak

Komoditas ruminansia yang berpotensi terdampak kondisi kemarau di KBB meliputi sapi potong, sapi perah, kambing, dan domba.

Berdasarkan data sementara 2026, populasi ternak di Kabupaten Bandung Barat terdiri dari 5.960 ekor sapi potong, 26.717 ekor sapi perah, 14.744 ekor kambing, dan 184.123 ekor domba.

Sapi potong tersebar di 16 kecamatan. Populasi terbesar di antaranya berada di Kecamatan Cisarua dengan 2.046 ekor dan Kecamatan Lembang sebanyak 1.464 ekor.

Sementara itu, populasi sapi perah tersebar di empat kecamatan, yakni Lembang, Parongpong, Cisarua, dan Ngamprah.

Kecamatan Lembang menjadi wilayah dengan populasi sapi perah terbesar, yakni mencapai 15.714 ekor.

Meski menghadapi tekanan akibat berkurangnya hijauan, produksi ternak secara umum masih cenderung stabil. Para peternak melakukan berbagai penyesuaian untuk mempertahankan produktivitas ternak.

Salah satunya dengan meningkatkan penggunaan pakan alternatif serta konsentrat berprotein tinggi sebagai pelengkap maupun pengganti sebagian hijauan.

Namun, penggunaan pakan alternatif tersebut tetap harus dilakukan secara terukur agar kebutuhan nutrisi ternak terpenuhi. Di sisi lain, peningkatan biaya pakan juga menjadi persoalan yang perlu diperhatikan karena dapat memengaruhi keberlanjutan usaha peternakan.

Peternak Cisarua Berburu Rumput hingga Luar Daerah

Gambaran kondisi tersebut terlihat pada Kelompok Tani Jaya Siliwangi di Desa Jambudipa, Kecamatan Cisarua.

Kelompok peternak tersebut mengelola kurang lebih 70 ekor sapi perah. Saat kemarau panjang, mereka mengaku semakin kesulitan memperoleh hijauan untuk memenuhi kebutuhan pakan ternak.

Produktivitas kebun rumput di wilayah tersebut turun drastis. Pada musim kemarau, produksi rumput diperkirakan hanya mampu mencapai sekitar 30 persen dibandingkan saat musim penghujan.

Kondisi tersebut membuat peternak harus mencari rumput ke daerah lain untuk memenuhi kebutuhan harian sapi perah.

Selain mencari hijauan, peternak juga mulai memanfaatkan jerami padi kering sebagai salah satu bahan pakan. Untuk menjaga kebutuhan nutrisi ternak, mereka menambahkan ampas tahu dan konsentrat khusus sapi perah.

Langkah tersebut dilakukan agar kondisi dan produktivitas sapi tetap terjaga di tengah semakin terbatasnya hijauan pakan akibat kemarau panjang.

Kondisi kemarau tahun ini menjadi pengingat pentingnya pengelolaan sumber pakan ternak secara berkelanjutan.

“Pengembangan kebun hijauan unggul dan penyediaan cadangan pakan menjadi salah satu kebutuhan yang perlu diperkuat untuk mengantisipasi musim kering berkepanjangan di Kabupaten Bandung Barat,” tandasnya.