Fenomena Blue Fire di Kawah Gunung Papandayan: Proses, Lokasi, dan Tips Aman

Tangkap layar kamera pengawas (CCTV) Gunung Api Papandayan. (sumber foto: PVMBG Badan Geologi)
Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung – Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan fenomena blue fire atau api biru kembali terlihat di Kawah Gunung Papandayan, Garut, Jawa Barat  pada 24 September 2026.

Menurut Menurut Kepala Pusat Vulkanologi Mitigasi Bencana (PVMBG) Badan Geologi ESDM,  S.S Rita Susilawati, pemandangan berupa nyala kebiruan di sekitar kawah ini tentu menarik perhatian karena tampak unik dan jarang terjadi.

Namun, Rita mengatakan di balik keindahannya, blue fire merupakan tanda adanya aktivitas gas vulkanik bersuhu tinggi yang perlu diwaspadai.

“Fenomena blue fire di Papandayan ini sebetulnya bukan yang pertama kali terjadi. Badan Geologi pernah mencatat ini terjadi di tahun 2023, tepatnya itu di tanggal 22 Februari kemudian di tanggal 12 Juli tahun 2025,” ujar Rita, Bandung, Senin (28/9/2026).

Meski demikian, Rita menyebut lokasi kemunculannya dapat berubah. Pada 2023 dan 2025, nyala biru terlihat di Kawah Baru, sedangkan pada 2026 fenomena tersebut ditemukan di Kawah Manuk.

*Apa Itu Fenomena Blue Fire?*

Blue fire adalah nyala api berwarna biru yang muncul ketika gas belerang bersuhu tinggi bertemu dan bereaksi dengan oksigen di udara. Di kawasan gunung api aktif, gas-gas panas tersebut keluar melalui rekahan atau lubang yang disebut fumarol.

Salah satu gas yang dapat ditemukan di area fumarol adalah gas belerang. Ketika suhu di sekitarnya cukup tinggi, gas tersebut dapat terbakar dan menghasilkan nyala kebiruan.

Warna biru ini berbeda dari api biasa yang umumnya berwarna merah atau jingga karena dipengaruhi oleh jenis gas dan kondisi pembakarannya.

“Jadi di Kawah Gunung Api Aktif itu banyak terdapat rekaan-rekaan tempat keluarnya gas. Gas bersuhu tinggi, kita sebut sebagai fumarol. Gas-gas bersuhu tinggi ini bisa keluar, salah satunya gas belerang.  Gas belerang ini ketika suhu tinggi dan dia bertemu dengan oksigen di udara, begitu bisa memunculkan nyala seperti kebiruan yang kita lihat, yang kita sebut sebagai blue fire,” jelas Rita.

Di Kawah Gunung Papandayan, hasil pengamatan juga menunjukkan adanya sisa-sisa pembakaran material belerang di sekitar lokasi. Suhu tinggi dan konsentrasi gas yang besar diduga mampu membakar endapan belerang, termasuk material yang berada di dinding kawah. Proses inilah yang menghasilkan cahaya biru seperti api.

*Mengapa Blue Fire di Papandayan Tidak Selalu Muncul?*

Blue fire di Gunung Papandayan hanya terlihat pada waktu-waktu tertentu karena membutuhkan beberapa kondisi khusus. Suhu gas harus cukup tinggi untuk memicu pembakaran.

Selain itu, konsentrasi gas belerang juga harus memadai agar dapat bereaksi dengan oksigen dan menghasilkan nyala api.

Rita menuturkan jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, blue fire tidak akan terlihat. Dengan kata lain, tidak munculnya api biru bukan berarti aktivitas vulkanik berhenti.

“Gas panas tetap dapat keluar dari fumarol, tetapi suhunya atau konsentrasinya mungkin tidak cukup untuk menimbulkan nyala kebiruan,” kata Rita

Fenomena ini juga dapat berpindah dari satu kawah ke kawah lain. Perubahan lokasi blue fire di Papandayan menunjukkan bahwa jalur keluarnya gas vulkanik dapat berubah mengikuti kondisi bawah permukaan dan aktivitas gunung api.

*Perbedaan Blue Fire Papandayan dan Kawah Ijen*

Blue fire lebih sering dikenal dari Kawah Ijen, Jawa Timur. Di sana, fumarol banyak mengeluarkan gas belerang dengan konsentrasi tinggi. Gas tersebut disebut berkaitan dengan aktivitas solfatara, yaitu keluarnya uap dan gas vulkanik yang kaya senyawa belerang pada suhu tinggi.

Kondisi tersebut membuat blue fire di Kawah Ijen relatif lebih sering terlihat, terutama pada dini hari ketika suasana gelap sehingga nyalanya tampak jelas.

“Suhu tinggi dan kandungan belerang yang melimpah memungkinkan proses pembakaran berlangsung lebih konsisten,” tutur Rita.

Sementara itu, blue fire di Gunung Papandayan bersifat lebih sporadis. Fenomena tersebut hanya muncul ketika suhu dan konsentrasi gas belerang berada pada tingkat yang sesuai. Karena itu, kemunculannya tidak dapat dipastikan setiap saat.

*Bahaya Gas Vulkanik di Sekitar Kawah*

Keindahan blue fire tidak boleh membuat pengunjung mengabaikan risiko. Setelah fenomena tersebut terlihat pada 2026, Badan Geologi melakukan pengamatan langsung di lapangan.

Hasilnya menunjukkan bahwa lokasi kejadian mengeluarkan gas vulkanik dengan konsentrasi yang cukup tinggi dan berpotensi membahayakan kesehatan.

“Pengukuran menunjukkan kadar sulfur dioksida atau SO2 mencapai sekitar 230 ppm, sedangkan hidrogen sulfida atau H2S berada di angka sekitar 120 ppm. Konsentrasi tersebut telah melebihi ambang batas yang aman bagi manusia,” terang Rita.

Gas vulkanik dapat menyebabkan iritasi mata dan saluran pernapasan. Dalam konsentrasi tinggi, paparan gas juga dapat menimbulkan pusing, mual, sesak napas, bahkan kehilangan kesadaran. Kondisi di sekitar kawah pun dapat berubah dengan cepat karena dipengaruhi arah angin, suhu, dan aktivitas vulkanik.

*Jarak Aman Saat Mengunjungi Gunung Papandayan*

Badan Geologi merekomendasikan pengunjung dan pendaki untuk menjaga jarak minimal 500 meter dari kawah aktif Gunung Papandayan.

Pengunjung tidak disarankan mendekati sumber gas atau mendirikan tenda di sekitar kawah. Rita menegaskan rekomendasi ini berlaku meskipun blue fire terlihat menarik untuk diabadikan.

“Jangan memaksakan diri mendekat demi mendapatkan foto atau video yang lebih jelas. Patuhi rambu, arahan petugas, serta informasi resmi mengenai kondisi terbaru gunung<‘ sebut Rita.

Jika muncul bau belerang yang sangat menyengat, mata terasa perih, tenggorokan teriritasi, atau napas mulai sesak, segera menjauh dari kawasan tersebut menuju lokasi yang lebih aman.

Rita mengingatkan penggunaan masker biasa juga tidak selalu mampu melindungi tubuh dari paparan gas vulkanik dalam konsentrasi tinggi.

*Menikmati Blue Fire dengan Bijak*

Fenomena blue fire di Kawah Gunung Papandayan merupakan salah satu bukti menarik tentang dinamika gunung api Indonesia. Nyala biru tersebut terbentuk melalui proses alami yang melibatkan gas belerang, suhu tinggi, dan oksigen.

Namun, fenomena ini juga menjadi pengingat bahwa kawasan gunung api aktif memiliki risiko yang tidak boleh diremehkan.

“Pengunjung tetap dapat menikmati keindahan alam Papandayan, tetapi keselamatan harus menjadi prioritas utama,” kata Rita.

Rita menyarankan menjaga jarak setidaknya 500 meter dari kawah aktif, jangan berkemah di zona terlarang, dan selalu ikuti rekomendasi Badan Geologi maupun petugas di lapangan. Dengan cara tersebut, pengalaman melihat blue fire dapat berlangsung secara lebih aman tanpa mengabaikan potensi bahaya yang menyertainya.