70 Keramik Bersejarah Museum Prabu Siliwangi Sukabumi Masuk Katalog BRIN

Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Sukabumi — Sebanyak 70 koleksi keramik pilihan dari Museum Prabu Siliwangi, Pondok Pesantren Dzikir Al-Fath, Kota Sukabumi, Jawa Barat, dibukukan dalam Katalog Keramik Museum Prabu Siliwangi. Katalog ini disusun bersama tim peneliti keramologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) untuk mendokumentasikan benda-benda bersejarah yang merekam jejak perdagangan dan hubungan antarbangsa di Nusantara.

Dari total 350 koleksi keramik yang tersimpan di Museum Keramik, sebanyak 70 artefak dipilih sebagai koleksi unggulan. Proses seleksi dan penyusunan katalog tersebut memakan waktu sekitar tiga bulan.

Pendiri Museum Prabu Siliwangi, KH Fajar Laksana, mengatakan pemilihan koleksi dilakukan oleh tim peneliti BRIN berdasarkan nilai historis setiap artefak. Keramik-keramik tersebut menjadi bukti hubungan masyarakat Nusantara dengan berbagai bangsa pada masa lalu.

“Alhamdulillah, selama tiga bulan BRIN telah memilah dan memilih keramik yang akan dimasukkan dalam katalog. Koleksi ini mewakili beberapa negara yang pernah datang ke Indonesia, yang dibuktikan dengan keberadaan keramik,” ujar Fajar, Rabu (14/10/2026).

Koleksi tersebut berasal dari berbagai wilayah, di antaranya China, Inggris, Belanda, Jepang, dan Thailand, serta artefak dari masa Kerajaan Majapahit. Rentang usianya diperkirakan mulai abad ke-8 hingga abad ke-20 Masehi.

Menurut Fajar, keberadaan keramik dari berbagai periode dan wilayah tersebut memperlihatkan panjangnya sejarah interaksi Nusantara dengan dunia luar, termasuk melalui aktivitas perdagangan.

“Koleksi keramik tertua berasal dari abad ke-8. Seluruh era dinasti Tiongkok ada perwakilannya di sini, ditambah keramik dari Eropa seperti Inggris dan Belanda, keramik Asia dari Thailand, hingga artefak Nusantara dari zaman Majapahit,” katanya.

Ia menilai koleksi tersebut menjadi salah satu bukti penting untuk memahami sejarah perdagangan internasional di Nusantara sejak berabad-abad silam.

Sebelum disimpan di Museum Prabu Siliwangi, keramik-keramik itu merupakan warisan turun-temurun keluarga besar Raden Sumawinata yang memiliki kaitan dengan Kesultanan Banten. Koleksi tersebut kemudian dihimpun dan disimpan di museum agar dapat dipelajari serta dikenal masyarakat luas.

“Keramik ini merupakan warisan dari keluarga besar Raden Sumawinata. Keluarga mengumpulkan keramik yang diwariskan leluhur, lalu menyimpannya di Museum Prabu Siliwangi,” ungkap Fajar.

 

 

 

 

 

Jadi Referensi Akademis dan Destinasi Eduwisata

Katalog Keramik Museum Prabu Siliwangi diterbitkan secara resmi oleh Khalifah Mediatama dan dilengkapi ISBN (International Standard Book Number). Penerbitan ini diharapkan memperluas akses terhadap dokumentasi koleksi keramik, termasuk melalui jaringan perpustakaan, perguruan tinggi, dan Perpustakaan Nasional.

Selain dalam bentuk cetak, katalog tersebut direncanakan tersedia dalam format digital agar dapat diakses masyarakat dan kalangan akademisi.

Fajar berharap katalog dan Museum Keramik dapat menjadi sumber pembelajaran sejarah sekaligus destinasi wisata edukasi bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum.

“Bagi Kota Sukabumi, ini menjadi nilai tambah dan keunggulan dengan adanya destinasi wisata budaya baru,” ujarnya.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah BRIN, Iim Imanudin, mengapresiasi penerbitan katalog tersebut. Menurutnya, koleksi keramik dapat menjadi petunjuk material untuk menelusuri mobilitas manusia dan barang pada masa lalu.

“Ada pergerakan mobilitas, bukan hanya orang, tetapi juga barang dan artefak. Benda-benda material itu menjadi indikasi adanya kisah masa lalu yang jejaknya masih bisa kita temukan,” kata Iim.

Ia juga menilai pelestarian peninggalan sejarah di Museum Prabu Siliwangi sejalan dengan upaya mengembangkan pendidikan yang berakar pada kebudayaan lokal. Menurutnya, nilai-nilai lokal perlu dipelihara sekaligus dikembangkan melalui inovasi dan kegiatan pendidikan.

Sementara itu, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (Dispusipda) Kota Sukabumi, Olga Pragosta, menilai penelitian dan pendokumentasian koleksi tersebut dapat memperkaya sumber pengetahuan sejarah bagi generasi mendatang.

Ia berharap hasil kajian yang dilakukan oleh para peneliti sesuai kompetensinya dapat menjadi bahan pembelajaran dan membantu mewariskan pengetahuan sejarah kepada generasi berikutnya.

Peluncuran Katalog Keramik Museum Prabu Siliwangi ini sekaligus menjadi bagian dari kegiatan museum dalam memperingati Hari Museum Indonesia 2026.