Gejalanya Muncul Perlahan, Waspadai Paparan Penyakit TBC

Pengamatan organ paru melalui hasil rekam medis rontgen. (sumber:pexels)
Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung – Sebanyak 18.846.000 penderita Tuberkulosis (TBC) pada tahun 2025 dicatat keberadaannya oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Jumlah itu kemungkinan dapat bertambah, jika tidak segera ditanggulangi.

Menurut dokter paru Hermina Hospital Pasteur, Bandung, dr. Asri Liqditta Bies, Sp.P, TBC) masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang serius, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia.

“Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis yang terutama menyerang paru-paru, meskipun juga dapat menyerang organ lain seperti tulang, kelenjar getah bening, dan otak,” terang Asri dicuplik dari laman Hermina Hospital Pasteur, Bandung, Rabu (21/10/2026).

Asri mengingatkan TBC menular melalui udara, sehingga ketika satu orang terinfeksi, orang-orang di sekitarnya memiliki risiko yang tinggi untuk ikut tertular.

Penularan TBC terjadi saat penderita TBC aktif batuk, bersin, berbicara, atau bahkan bernyanyi, sehingga bakteri menyebar dalam bentuk percikan udara (droplet).

“Orang yang tinggal serumah, bekerja di ruangan tertutup, atau sering berinteraksi dekat dengan penderita TBC menjadi kelompok paling rentan. Oleh karena itu, jika satu orang terdiagnosa TBC, semua orang di sekitarnya harus meningkatkan kewaspadaan,” jelas Asri.

Asri memaparkan gejala TBC seringkali muncul secara perlahan, seperti batuk lebih dari dua minggu, demam ringan yang hilang timbul, keringat malam, penurunan berat badan tanpa sebab jelas, serta rasa lelah berkepanjangan.

Karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, banyak penderita terlambat memeriksakan diri. Keterlambatan ini tidak hanya memperburuk kondisi pasien, tetapi juga meningkatkan risiko penularan di lingkungan sekitar.

“Upaya melawan TBC membutuhkan kerja sama bersama. Deteksi dini menjadi langkah penting untuk memutus rantai penularan. Pemeriksaan dahak, tes cepat molekuler, dan rontgen dada merupakan metode yang umum digunakan untuk mendiagnosis TBC. Jika satu anggota keluarga terdiagnosis, maka seluruh anggota keluarga disarankan untuk menjalani skrining,” tutur Asri.

*Pola Pengobatan*

Asri menjelaskan pengobatan TBC sebenarnya tersedia dan efektif jika dijalani dengan disiplin. Pasien harus mengkonsumsi obat secara rutin selama minimal enam bulan tanpa putus.

Menghentikan pengobatan sebelum waktunya dapat menyebabkan TBC resisten obat, yang lebih sulit dan mahal untuk diobati.

“Dukungan keluarga dan lingkungan sangat penting agar pasien dapat menyelesaikan pengobatan,” ungkap Asri.

Pencegahan juga menjadi kunci dalam melawan TBC. Menjaga ventilasi rumah agar udara segar dapat masuk, menerapkan etika batuk, menggunakan masker bila diperlukan, serta menjaga daya tahan tubuh melalui gizi seimbang dan pola hidup sehat merupakan langkah sederhana namun efektif.

Asri menegaskan dengan kesadaran bersama, TBC bukan hanya dapat diobati, tetapi juga dicegah.

*Upaya Pemkot Bandung*

Sebelumnya, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung memperkuat langkah pencegahan dan pengendalian TBC dengan melibatkan aparat kewilayahan.

Sekretaris Daerah Kota Bandung, Iskandar Zulkarnain menjelaskan, pengendalian TBC menjadi perhatian serius pemerintah dan merupakan bagian dari Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Republik Indonesia.

“Karena itu kita mengundang kewilayahan. Program ini melibatkan kita semua,” ujar Zulkarnain di Auditorium Balai Kota, Selasa 19 Februari 2026.

Zulkarnain mendorong peran Camat dan Lurah sebagai penggerak masyarakat dalam pendekatan promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif melalui strategi 3T yaitu testing, tracing, dan treatment.

Menurutnya, TBC merupakan penyakit menular sehingga penanganannya tidak bisa dilakukan secara parsial.

“Kalau satu orang terkena, bukan hanya dia yang dites, tetapi orang-orang di sekelilingnya juga harus diperiksa. Pengobatannya pun harus tuntas, kurang lebih enam bulan dan tidak boleh terputus,” kata Zulkarnain.

Berdasarkan data yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, jumlah kasus TBC di Kota Bandung tercatat sebanyak 18.846 kasus dan relatif belum menunjukkan penurunan signifikan dibanding tahun sebelumnya.

Pemkot Bandung menargetkan angka tersebut dapat ditekan melalui gerakan yang lebih aktif dan terkoordinasi.

“Kita tidak ingin hanya menjaga agar tidak naik. Harus turun,” kata Zulkarnain.

*Gerakan Bersama Mengakhiri TBC*

Selain mendukung Program Hasil Terbaik Cepat, Pemkot Bandung juga mendorong penguatan Gerakan Bersama Mengakhiri TBC (Geber TBC), pelaksanaan TOS TBC (Temukan, Obati Sampai Sembuh), pemberian terapi pencegahan TBC, serta pembentukan Kelurahan Siaga TBC di setiap wilayah.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung, Sony Adam menyebut, penanganan TBC membutuhkan dukungan penuh dari kewilayahan.

“Dinas Kesehatan tidak mampu melakukannya sendiri. Kota Bandung harus bergerak lebih cepat dan lebih masif,” ujar Sony.

Sony menuturkan, evaluasi capaian penanganan TBC akan terus dilakukan melalui forum lokakarya mini di Puskesmas setiap bulan, sehingga progres di tingkat kecamatan dapat dipantau dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Melalui sosialisasi tersebut, Pemkot Bandung berharap terbangun komitmen bersama antara perangkat daerah dan kewilayahan untuk mempercepat penurunan angka TBC di Kota Bandung.(ARN)

Baca juga: 

Dinobatkan Terpopuler Sepanjang Masa, Simak Daftar 10 Lagu OST Drama China