Pascakejadian Kekerasan, PERSIB Gelar Pendampingan Psikologis untuk Pemain U-18

Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung – PERSIB Bandung memberikan pendampingan psikologis kepada para pemain U-18, tim pelatih, staf, dan orang tua pemain untuk mendukung proses pemulihan setelah tim mengalami kejadian kekerasan beberapa waktu lalu.

Kegiatan psikoedukasi dan pendampingan psikologis tersebut digelar di Royal Box, Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Selasa (20/10/2026). Program ini menghadirkan psikolog klinis dan olahraga, Rizka Safitri, M.Sc., M.Psi.

Pendampingan tersebut menjadi bagian dari komitmen manajemen PERSIB dalam memperhatikan kesejahteraan pemain muda, tidak hanya dari sisi kemampuan teknis dan fisik, tetapi juga kondisi psikologis mereka.

Head of Communications PT PERSIB Bandung Bermartabat, Adhi Pratama, mengatakan bahwa klub ingin memastikan seluruh pihak yang terdampak memperoleh dukungan yang diperlukan untuk melewati situasi tersebut.

“Bagi kami, pemain adalah bagian penting dari keluarga besar PERSIB. Karena itu, perhatian manajemen tidak hanya berfokus pada perkembangan mereka di lapangan, tetapi juga pada kondisi psikologis, rasa aman, dan kesejahteraan mereka,” ujar Adhi.

Ia menjelaskan, setiap individu memiliki proses pemulihan yang berbeda. Karena itu, pendampingan diharapkan dapat membantu para pemain dan pihak terkait mengelola respons emosional, membangun kembali rasa aman, serta meningkatkan kepercayaan diri secara bertahap.

PERSIB juga berkomitmen untuk terus memberikan perhatian dan dukungan sesuai dengan kebutuhan para pemain, tim pelatih, staf, maupun keluarga mereka.

“Kami berharap pendampingan ini dapat membantu mereka secara bertahap kembali menjalani aktivitas dengan lebih tenang dan percaya diri. PERSIB akan terus memberikan perhatian dan dukungan yang diperlukan,” katanya.

Pelatih Nilai Pendampingan Psikologis Penting

Dukungan tersebut mendapat sambutan positif dari tim pelatih Elite Pro Academy (EPA) PERSIB, Imam Arief Fadhillah.

Menurutnya, perhatian terhadap kondisi psikologis merupakan bagian penting dalam pembinaan pemain muda, terlebih ketika mereka sedang berjuang mengembangkan kemampuan dan meraih cita-cita sebagai pesepak bola profesional.

“Program ini sangat baik untuk membantu anak-anak menjalani proses pemulihan. Pengalaman kemarin tentu bukan sesuatu yang mudah bagi mereka, terlebih di usia yang masih muda dan sedang berjuang meraih cita-cita,” kata Imam.

Ia menambahkan, meskipun kegiatan latihan telah kembali berjalan, kondisi psikologis setiap pemain tetap perlu diperhatikan.

Imam berharap pendampingan tersebut dapat membantu para pemain mengelola beban emosional sekaligus memperkuat kebersamaan tim. Lingkungan yang suportif dinilai penting agar proses pembinaan dapat berlangsung dengan baik.

Pemain U-18 Mulai Kembali Berlatih
Sementara itu, pemain PERSIB U-18, Muhammad Erlangga Fajriawan, mengungkapkan kondisi fisiknya semakin membaik. Ia juga telah kembali mengikuti sesi latihan bersama rekan-rekannya.

Fajri mengatakan, dirinya berusaha menjaga fokus dan kepercayaan diri agar dapat mempersiapkan diri menghadapi pertandingan berikutnya.

“Alhamdulillah, kondisi fisik saya semakin baik dan sekarang sudah kembali menjalani latihan seperti biasa. Saya berusaha untuk tidak terus-menerus memikirkan kejadian kemarin dan mencoba fokus menjalani aktivitas ke depan,” ujar Fajri.

Ia berharap dirinya dan rekan-rekan setim dapat kembali bermain dengan lepas dan percaya diri, serta memberikan penampilan terbaik untuk PERSIB pada pertandingan mendatang.

Pendampingan Dilakukan dalam Dua Sesi
Program pendampingan psikologis tersebut dilaksanakan melalui dua sesi utama. Sesi pertama berupa edukasi mengenai support system yang melibatkan orang tua pemain dan tim pelatih.

Materi yang diberikan menekankan pentingnya dukungan emosional, komunikasi terbuka, serta peran keluarga dan pelatih dalam menciptakan lingkungan yang aman bagi para pemain selama menjalani proses pemulihan.

Adapun sesi kedua difokuskan pada konseling kelompok dan stabilisasi emosi bagi para pemain U-18 bersama psikolog. Kegiatan ini mencakup penyusunan kesepakatan mengenai kerahasiaan, pengelolaan respons emosional, serta penguatan kesiapan mental menjelang pertandingan tandang.

Melalui program tersebut, PERSIB berharap para pemain U-18 dapat menjalani proses pemulihan dengan dukungan yang memadai dan kembali membangun kepercayaan diri.

Bagi klub, pembinaan pemain muda tidak hanya berorientasi pada prestasi di lapangan, tetapi juga mencakup perhatian terhadap keselamatan, kesejahteraan, dan perkembangan setiap individu.(KURASI)

Baca juga: 

PERSIB Gelar Doa Bersama untuk Korban Karhutla di Kalimantan, Ajak Bobotoh Berdonasi