Kurasi, Bandung – Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi peluang terjadinya kemarau panjang pada 2026 mencapai 81 persen dan puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.
Sejumlah wilayah di Jawa Barat, mulai dari kawasan pesisir dan industri seperti Bekasi dan Cirebon, wilayah agraris Kuningan, hingga wilayah dataran tinggi seperti Kota Bandung, kini masuk dalam radar zona potensial terdampak kekeringan ekstrem.
“El Niño 2026 diperkirakan tidak akan mencapai tingkat ekstrem. Namun, musim kemarau diprediksi berlangsung lebih lama dengan curah hujan yang berada di bawah rata-rata klimatologis,” ujar Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Albertus Sulaiman, dicuplik dari laman BRIN, Rabu (23/9/2026).
Albertus menjelaskan bahwa meskipun intensitas El Niño tahun ini masuk dalam kategori moderat, dampaknya terhadap durasi musim kemarau di Indonesia tetap signifikan. Curah hujan diproyeksikan akan merosot tajam di bawah batas normal.
Sebelumnya disebutkan ancaman badai iklim ekstrem “Godzilla El Niño” dipastikan kecil terjadi tahun ini, masyarakat di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat, harus bersiap menghadapi musim kemarau yang jauh lebih panjang dari biasanya.
“Hasil analisis berbagai model iklim dunia menunjukkan bahwa kondisi iklim global saat ini lebih mengarah pada El Niño kategori moderat dengan peluang sekitar 27 persen. Kondisi tersebut berbeda dengan El Niño super kuat atau Godzilla El Niño yang pernah terjadi pada tahun 1997 dan 2015,” kata Albertus.
*Antisipasi Dampak Wilayah*
Berdasarkan prediksi BRIN lanjut Albertus, puncak musim kemarau tahun 2026 diperkirakan terjadi pada Agustus. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa, khususnya Jawa Barat seperti Bekasi, Cirebon, Kuningan, dan Kota Bandung, berpotensi mengalami kondisi sangat kering.
Secara keseluruhan, peluang terjadinya kemarau yang lebih panjang mencapai sekitar 81 persen. Faktor alamiah yang membuat Indonesia terhindar dari Godzilla El Niño tahun ini adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) di Samudera Hindia yang terpantau stabil.
“Peluang munculnya Godzilla El Niño tahun ini sangat kecil karena beberapa faktor ilmiah. Salah satunya adalah kondisi Indian Ocean Dipole (IOD) yang saat ini berada pada fase posisi normal (neutral), diprediksi hingga April 2027,” terang Albertus.
Selain itu, Indonesia dan kawasan Pasifik baru saja mengalami El Niño kuat pada periode 2023–2024, sehingga secara fisik lautan belum memiliki cukup energi untuk kembali membentuk El Niño super ekstrem dalam waktu yang berdekatan.
Pemerintah daerah di wilayah terdampak, khususnya di Jawa Barat, diharapkan segera mengambil langkah mitigasi, mulai dari manajemen cadangan air di waduk, antisipasi kegagalan panen (puso), hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) akibat durasi kemarau yang lebih panjang.
*Indonesia Siapkan Drone Pemadam hingga Satelit Ina-Carbon*
Meski demikian, Albertus menyebutkan otoritasnya menemukan adanya sinyal peningkatan risiko El Niño ekstrem pada periode akhir 2027 hingga pertengahan 2028. Melalui pendekatan analisis stokastik menggunakan Persamaan Fokker-Planck, peluang kemunculan Godzilla El Niño pada periode tersebut diperkirakan meningkat hingga mendekati 40 persen.
Albertus mengatakan temuan ini menjadi peringatan dini bagi pemerintah untuk mulai menyiapkan strategi mitigasi jangka menengah. Untuk menghadapi dampak kemarau panjang, BRIN telah mengembangkan berbagai teknologi mitigasi berbasis riset.
“Salah satunya adalah sistem pemantauan lahan gambut secara real time melalui platform Ina-Carbon, yang mampu memonitor tinggi muka air tanah, kelembapan tanah, curah hujan, dan kualitas udara. Sistem ini dapat mendeteksi kondisi kritis lahan gambut satu hingga dua minggu sebelum kebakaran hutan dan lahan terjadi,” tukas Albertus.
Selain itu kata Albertus, BRIN juga mengembangkan teknologi drone pemadam kebakaran yang dapat menjangkau lokasi-lokasi terpencil yang sulit diakses petugas lapangan.
Tidak hanya fokus pada pemadaman api, BRIN juga menyiapkan strategi di sektor hulu pertahanan pangan nasional agar Indonesia terhindar dari krisis kelaparan atau gagal panen massal saat kemarau panjang tiba.
Rekayasa pertanian diarahkan pada pemanfaatan lahan-lahan alternatif. Di sektor pangan, BRIN menyiapkan berbagai teknologi adaptasi untuk mengurangi risiko gagal panen.
“Teknologi tersebut mencakup sistem irigasi hemat air, pengelolaan sumber daya air yang lebih efisien, hingga pemanfaatan lahan suboptimal seperti rawa lebak yang dapat menjadi alternatif produksi pangan saat lahan pertanian konvensional mengalami kekurangan air,’ ungkap Albertus.
Albertus mengimbau kepada seluruh lapisan kelompok masyarakat agar tidak panik dalam menghadapi kekeringan yang diperkirakan lebih panjang dan kering pada 2026 ini.