Anak Gemuk Belum Tentu Sehat, Ahli Gizi : Waspadai ‘Sedentary Lifestyle’ dan Ancaman Penyakit Degeneratif

Ilustrasi kaki anak gemuk. (sumber: pixabay)
Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung – Di Indonesia, pandangan bahwa anak gemuk adalah anak yang sehat dan menggemaskan masih melekat kuat. Sebaliknya, anak yang kurus sering kali dicap kurang diurus oleh orang tuanya.

Paradoks sosial ini kerap membuat orang tua bimbang dan berlomba-lomba membuat anaknya gemuk. Padahal, berat badan berlebih atau obesitas pada anak bukanlah sebuah prestasi, melainkan lampu kuning bagi kesehatannya.

Ahli Gizi Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung, Ita Rosita, menjelaskan bahwa kegemukan dipicu oleh ketidakseimbangan energi: asupan makanan yang masuk jauh lebih tinggi daripada energi yang dikeluarkan melalui aktivitas fisik. Kondisi ini diperparah oleh maraknya sedentary lifestyle (gaya hidup malas bergerak) di kalangan anak-anak zaman sekarang.

“Gaya hidup sedentary adalah kebiasaan tidak aktif di mana anak-anak menghabiskan terlalu banyak waktu dengan duduk atau berbaring, seperti terlalu lama menonton TV, bermain gawai, atau membaca tanpa diselingi aktivitas fisik,” ujar Ita dicuplik dari laman RSUP Hasan Sadikin, Rabu (23/9/2026).

Selain faktor genetik (yang sebenarnya bukan pemicu utama), Ita menyebutkan beberapa faktor lingkungan dan pola asuh yang salah kaprah menjadi penyebab utama melonjaknya berat badan anak:

– Pola Makan ‘Serba Instan’: Konsumsi makanan olahan, minuman ringan (softdrink), serta makanan siap saji (fast food) seperti burger, pizza, dan hotdog secara berlebihan.

– Kelebihan Susu Formula: Pemberian porsi susu formula yang melebihi kebutuhan riil bayi atau anak.

– Pola Asuh ‘Terlalu Memanjakan’: Menuruti semua keinginan makanan anak tanpa memfilter dampak buruk jangka panjangnya bagi kesehatan.

*Bahaya Nyata Obesitas Anak: Fisik hingga Psikologis*

Jangan sepelekan kegemukan pada masa kecil. Ita memperingatkan bahwa obesitas pada anak-anak adalah ‘akar’ dari berbagai penyakit mematikan saat mereka dewasa kelak.

“Kegemukan pada usia dewasa biasanya merupakan kelanjutan dari masa kecil. Ini menjadi faktor risiko utama terjadinya berbagai penyakit metabolik dan degeneratif seperti penyakit jantung (kardiovaskular), diabetes mellitus, kanker, hingga kerusakan sendi (osteoartritis),” tegas Ita.

Dalam jangka pendek, anak yang obesitas juga akan mengalami penurunan kualitas hidup yang signifikan, antara lain:

– Gangguan Fisik: Gangguan pertumbuhan tungkai kaki akibat menopang beban berat, serta timbunan lemak pada organ tubuh yang menghambat ruang gerak serta perkembangan optimal anak.

– Gangguan Pernapasan: Mengalami masalah tidur seperti sleep apnea (henti napas sejenak saat tidur).

– Dampak Psikologis: Anak menjadi kurang percaya diri dan rentan menjadi korban perundungan (bullying) atau ejekan dari teman-temannya.

*Cara Memutus Rantai Obesitas Anak*

Agar pertumbuhan anak berjalan optimal dengan berat badan yang normal, Ahli Gizi RSHS ini membagikan beberapa tips praktis yang bisa diterapkan di rumah:

1. Terapkan Isi Piring Ku (Gizi Seimbang)
Sajikan makanan dari bahan segar, bukan makanan kemasan atau instan. Pastikan piring anak berisi karbohidrat (nasi putih/merah), lauk hewani (daging, ayam, telur, ikan), lauk nabati (tahu, tempe, kacang-kacangan), serta sayur dan buah segar. Kurangi metode memasak dengan cara digoreng secara berlebihan untuk menekan asupan lemak.

2. Jangan Lewatkan Sarapan
Biasakan anak untuk sarapan setiap pagi. Sarapan adalah modal energi anak untuk aktif bergerak sekaligus mencegah anak makan dengan porsi “balas dendam” yang berlebihan di siang hari.

3. Buat Aturan ‘Meja Makan’ tanpa Gawai
Biasakan anak makan dengan fokus di meja makan, bukan sambil menonton TV atau bermain smartphone. Makan sambil terdistraksi membuat otak tidak menyadari sinyal kenyang, sehingga anak cenderung makan jauh lebih banyak dari yang dibutuhkan.

4. Rutin Olahraga 30 Menit sehari
Ajak anak melakukan aktivitas fisik atau berolahraga minimal 30 menit sehari, sebanyak tiga kali dalam seminggu untuk membakar kalori dan memutus sedentary life.

Jika anak Anda sudah terlanjur masuk dalam kategori obesitas, Ita menyarankan orang tua untuk segera melakukan evaluasi pola hidup atau berkonsultasi dengan konselor gizi. Edukasi gizi sejak dini—terutama melalui media visual yang menarik—akan jauh lebih mudah diterima oleh anak usia sekolah agar mereka paham mana makanan yang baik untuk tubuh mereka.