Kurasi, Sukabumi — Berawal dari sebuah toko batik di Jalan Kenarie, Kota Sukabumi, Batik Kenarie kini berkembang menjadi rumah produksi yang membawa karya batik khas Sukabumi hingga ke sejumlah negara.
Perjalanan tersebut mendapat apresiasi melalui IJTI Award 2026 kategori “Kreasi Cipta Budaya”. Penghargaan diterima pemilik Batik Kenarie, Irma Silviani, dalam malam Anugerah IJTI Korda Sukabumi Award di Inna Samudera Beach Hotel, Palabuhanratu, Sabtu (27/9/2026) malam.
Penghargaan tersebut diserahkan Wakil Ketua IJTI Korda Sukabumi Raya, Rizki Gustana dari tvOne.
Bagi Irma, penghargaan itu bukan sekadar bentuk apresiasi terhadap karya, tetapi juga menjadi dorongan untuk terus memperkenalkan batik khas Sukabumi sebagai bagian dari kekayaan budaya Indonesia ke tingkat yang lebih luas.
“Beyond Spectacular, sebuah event yang dikemas sangat apik dan full energi. Meninggalkan kesan yang tak akan terlupakan. Bravo IJTI, teruslah berkarya, teruslah bermanfaat untuk negeri,” ujar Irma.
Berawal dari Kecintaan terhadap Sukabumi
Batik Kenarie didirikan Irma pada 2011. Nama Kenarie diambil dari nama sebuah jalan di Kota Sukabumi yang memiliki kedekatan dengan perjalanan hidup sekaligus kecintaannya terhadap kampung halaman.
Dari toko batik, usaha tersebut kemudian berkembang menjadi galeri sekaligus rumah produksi yang mengembangkan berbagai produk batik khas Sukabumi.
“Batik Kenarie menjadi sebuah rumah produksi batik khas Sukabumi. Berawal dari kecintaan terhadap seni. Tahun 2011 saya membuka toko batik dengan title Batik Kenarie karena kecintaan saya terhadap kampung halaman yang berada di Jalan Kenarie Kota Sukabumi,” tutur Irma.
Seiring perkembangan usaha, karya Batik Kenarie tidak hanya diminati masyarakat lokal. Produk tersebut juga mendapat perhatian dari instansi pemerintah, perusahaan swasta, komunitas fesyen hingga berbagai pihak di sejumlah kota besar Indonesia.
Batik Kenarie kemudian mulai mengikuti berbagai pagelaran fesyen, baik di tingkat nasional maupun internasional.
Menjangkau Pasar Mancanegara
Perkembangan Batik Kenarie juga ditandai dengan meningkatnya kunjungan wisatawan dan tamu mancanegara ke galerinya. Mereka datang dari berbagai negara, di antaranya Malaysia, Thailand, Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan Jerman.
“Sering kami mendapatkan kunjungan dari luar negeri. Ada dari Malaysia, Thailand, Korea, Jepang, Amerika sampai Jerman,” ungkap Irma.
Dari kunjungan tersebut, pemasaran Batik Kenarie perlahan meluas ke luar Indonesia. Salah satunya melalui pelanggan dari Belanda yang awalnya membeli batik dalam jumlah terbatas.
Seiring waktu, permintaan tersebut berkembang hingga satu koper penuh berisi produk Batik Kenarie.
“Awalnya hanya sedikit-sedikit, tetapi lama-lama satu koper penuh isinya batik semua. Sampai sekarang masih berlanjut,” kata Irma.
Batik Kenarie juga mendapat kesempatan mengikuti pameran di Jepang. Salah satunya melalui ajakan pelanggan yang kemudian membawa karya tersebut ke Yoyogi Park.
Tak hanya menghadirkan batik dalam bentuk konvensional, Batik Kenarie juga melakukan inovasi dengan memadukan batik dan unsur budaya Jepang, salah satunya melalui pembuatan kimono berbahan batik.
Sementara di Belanda, produk Batik Kenarie pernah diperkenalkan dalam kegiatan perkumpulan istri-istri Indonesia di negara tersebut.
“Awalnya memang hanya sedikit-sedikit. Alhamdulillah responsnya sangat bagus dan luar biasa. Tahun depan kami ingin lebih banyak lagi,” ujarnya.
Inovasi untuk Menjaga Eksistensi Batik
Bagi Irma, menjaga keberlangsungan batik tidak cukup hanya dengan mempertahankan motif dan produk yang sudah ada. Inovasi menjadi bagian penting agar batik tetap relevan dan dapat diterima berbagai kalangan.
Karena itu, Batik Kenarie terus mengembangkan desain dan produk baru. Upaya tersebut sekaligus menjadi salah satu alasan pengunjung mancanegara kembali datang untuk melihat perkembangan karya terbaru.
“Kita selalu coba inovasi baru. Alhamdulillah, kunjungan-kunjungan dari luar negeri sampai sekarang ke Batik Kenarie dalam satu tahun bisa lima kali, bahkan lebih,” katanya.
Menurut Irma, para tamu mancanegara tidak hanya datang untuk membeli produk, tetapi juga melihat secara langsung karya-karya baru yang dikembangkan Batik Kenarie.
Penghargaan IJTI Award 2026 pun menjadi momentum bagi Batik Kenarie untuk terus memperkuat eksistensinya sebagai salah satu penggerak ekonomi kreatif sekaligus membawa identitas budaya Sukabumi ke panggung yang lebih luas.
Dari sebuah toko di Jalan Kenarie, karya Batik Kenarie kini telah menembus pasar dan panggung budaya di sejumlah negara, termasuk Jepang dan Belanda.