Kurasi, Bandung – Sebagian besar masyarakat dianggap salah kaprah soal berbagai gejala penyakit asam urat (gout). Penyakit yang disebabkan oleh penumpukan kristal asam urat di sendi akibat kadar asam urat yang tinggi dalam darah (hiperurisemia) ini kerap dikaitkan dengan rasa pegal di tubuh.
Menurut dokter spesialis ilmu penyakit dalam Rumah Sakit Ibu dan Anak (RSIA) Harapan Bunda Bandung, dr. Chevie Wirawan, SpPD, anggapan tersebut kurang tepat ditujukan sebagai tanda terjadinya penyakit asam urat.
“Seringkali keluhan pegal, pegal linu atau nyeri sendi dianggap asam urat. Sebenarnya penyakit asam urat itu memiliki serangan yang khas,” ujar Chevie dicuplik dari program edukasi kesehatan RSIA Harapan Bunda Bandung, ditulis Rabu (30/9/2026).
Chevie mengatakan serangan khas penyakit asam urat itu meliputi di kaki terasa bengkak, merah, panas dan nyeri terutama malam.
Serangan asam urat dapat muncul secara tiba-tiba dan berkembang sangat cepat, bahkan hanya dalam hitungan jam. Gejalanya bisa berlangsung selama 3 hingga 10 hari dan sering kali muncul secara berulang jika tidak ditangani dengan baik.
“Untuk itu jika Anda mengalami keluhan nyeri sendiri atau pernah merasakan asam urat yang tinggi, segera periksakan ke dokter spesialis,” kata Chevie.
Meskipun umumnya menyerang lansia, nyatanya penyakit ini juga bisa dialami oleh orang-orang berusia muda, bahkan di usia 20-an. Sayangnya, banyak orang masih menyepelekan gejala awal asam urat.
Padahal, jika dibiarkan, penumpukan kristal asam urat di dalam sendi dapat memicu peradangan yang serius dan berulang. Serangan nyeri ini bisa datang 1–2 kali dalam setahun dan berlangsung hingga 7–10 hari, sangat mengganggu aktivitas harian.
*Kerap Menyerang Pria*
Dilansir Liputan6, penyakit ini lebih umum terjadi pada pria, terutama yang berusia di atas 30 tahun. Namun, wanita juga bisa mengalaminya, biasanya setelah memasuki masa menopause karena terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi kadar asam urat dalam tubuh.
Penting untuk diketahui, banyak orang masih salah kaprah dengan menyamakan asam urat dengan rematik. Padahal, keduanya adalah kondisi yang berbeda. Rematik merupakan istilah umum yang menggambarkan peradangan pada sendi atau otot, sedangkan asam urat lebih spesifik disebabkan oleh kristal urat yang menumpuk di persendian.
Dengan memahami perbedaan ini dan mengenali gejalanya lebih awal, Anda bisa mengambil langkah pencegahan dan penanganan yang tepat sebelum asam urat berkembang menjadi kondisi yang lebih parah.
Secara alami, tubuh memproduksi asam urat sebagai hasil pemecahan purin, yaitu senyawa yang berfungsi penting dalam tubuh, seperti membantu pertumbuhan sel dan menyediakan energi.
Setelah digunakan, kelebihan asam urat seharusnya dibuang oleh tubuh melalui urine. Namun, dalam kondisi tertentu, tubuh bisa menghasilkan asam urat secara berlebihan, atau justru ginjal tidak mampu membuangnya dengan efisien.
Akibatnya, kadar asam urat dalam darah meningkat dan membentuk kristral tajam seperti jarum yang menumpuk di dalam sendi atau jaringan sekitarnya. Inilah yang menyebabkan rasa sakit luar biasa, peradangan, serta pembengkakan yang khas pada penderita asam urat.
*Faktor Risiko Penyakit Asam Urat*
Ada beberapa faktor yang bisa memicu peningkatan kadar asam urat dalam darah, di antaranya:
1. Pola Makan Tidak Sehat
Mengonsumsi makanan tinggi purin seperti daging merah, jeroan, dan makanan laut (misalnya kerang), serta minuman manis yang mengandung fruktosa dan alkohol dapat memicu naiknya kadar asam urat.
2. Kelebihan Berat Badan
Orang dengan berat badan berlebih cenderung memproduksi lebih banyak asam urat, dan pada saat yang sama, ginjal mereka lebih sulit untuk membuangnya.
3. Riwayat Medis Tertentu
Penyakit seperti tekanan darah tinggi, diabetes, sindrom metabolik, obesitas, penyakit jantung, dan gangguan ginjal dapat meningkatkan risiko terserang asam urat.
4. Penggunaan Obat-obatan
Beberapa jenis obat, terutama obat untuk hipertensi atau obat yang digunakan setelah transplantasi organ, dapat memicu naiknya kadar asam urat dalam tubuh.
5. Faktor Genetik (Riwayat Keluarga)
Jika ada anggota keluarga yang menderita asam urat, kemungkinan kamu juga berisiko mengalaminya lebih tinggi.
6. Usia dan Jenis Kelamin
Pria cenderung lebih sering terkena asam urat, terutama di usia 30–50 tahun. Sedangkan wanita biasanya berisiko lebih tinggi setelah menopause, saat kadar asam urat dalam tubuh mulai mendekati level pria.
7. Trauma atau Operasi
Menjalani operasi atau mengalami trauma fisik dalam waktu dekat juga bisa menjadi pemicu munculnya serangan asam urat.
Baca juga :