Hari Batik Nasional, 17 Anak Tampil Percaya Diri Ikuti Fashion Show dan Tur di Rumah Batik

Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Sukabumi — Memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh setiap 2 Oktober, perajin muda batik Kota Sukabumi, Shafanissa Ganefiani, Sanaya Byshafa, berkolaborasi dengan Rumah Batik Fractal Sukabumi menggelar peragaan busana dan tur rumah batik.

Kegiatan bertajuk “Cintai Batik Tradisional” tersebut digelar di Rumah Batik Fractal, Jalan Suryakencana, Kota Sukabumi. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenalkan batik kepada generasi muda sejak dini, tidak hanya melalui motif dan busana, tetapi juga dengan memperlihatkan langsung proses pembuatannya.

Sebanyak 17 anak tampil percaya diri di atas catwalk dengan mengenakan beragam busana bermotif batik khas Sukabumi.

Peragaan busana tersebut tidak sekadar menjadi ajang menampilkan kreativitas anak. Para peserta juga diajak memahami proses panjang di balik pembuatan selembar kain batik.

Beragam motif khas Sukabumi turut diperkenalkan, di antaranya motif teh, penyu, dan pakujajar. Setelah peragaan busana, peserta diajak mengikuti tur rumah batik untuk melihat langsung proses membatik.

Dengan melihat proses tersebut, anak-anak diperkenalkan bahwa batik bukan sekadar motif pada kain. Di dalamnya terdapat keterampilan, proses, filosofi, dan nilai budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Ibu Wakil Wali Kota Sukabumi, Kia Florita, mengatakan pengenalan batik kepada anak-anak sejak dini penting untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya Indonesia.

“Anak-anak perlu dikenalkan sejak dini bahwa batik bukan hanya pakaian atau motif pada kain, tetapi ada proses, kreativitas, dan nilai budaya yang harus kita jaga. Dengan begitu, kecintaan terhadap batik bisa tumbuh dari generasi muda,” ujarnya.

Perkembangan batik di Kota Sukabumi sendiri semakin beragam. Sejumlah perajin mulai menghadirkan desain yang lebih modern dan mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan identitas batik.

Kepedulian terhadap lingkungan juga mulai diterapkan dalam proses produksi. Sisa kain atau perca batik tidak langsung dibuang, tetapi diolah kembali menjadi berbagai produk aksesori.

Produk hasil pemanfaatan perca batik tersebut bahkan telah dipasarkan hingga mancanegara, di antaranya Jerman dan Prancis.

Menurut Shafanissa Ganefiani, kegiatan pengenalan batik juga menjadi bagian dari upaya memperluas edukasi sekaligus membuka ruang pemberdayaan bagi penyandang disabilitas.

Sanaya Byshafa telah berkolaborasi selama bertahun-tahun dengan SLB Budi Nurani Kota Sukabumi dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan batik dan kreativitas.

“Kami ingin anak-anak tidak hanya memakai batik, tetapi juga mengenal proses dan memahami nilai yang ada di balik selembar kain batik. Harapannya, dari sini tumbuh rasa cinta dan keinginan untuk terus melestarikan batik,” ujar Shafanissa.

Melalui kegiatan tersebut, batik tradisional diharapkan tidak hanya dikenakan sebagai busana, tetapi juga dipahami sebagai warisan budaya, hasil kreativitas, sekaligus identitas masyarakat Indonesia.

Pengenalan batik sejak usia dini diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap budaya bangsa dan mendorong mereka untuk ikut menjaga serta melestarikannya.