Kurasi, Bandung Barat – Seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Kecamatan Cililin, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jawa Barat, Sri Nurhaida Pratiwi, diduga menjadi korban penyekapan di Dubai, Uni Emirat Arab. Keluarga korban kini berupaya meminta bantuan pemerintah untuk memastikan keselamatan dan memulangkan Sri ke Indonesia.
Kasus tersebut telah dilaporkan kepada Dinas Tenaga Kerja (Disnaker) Kabupaten Bandung Barat. Pihak keluarga juga telah berkomunikasi dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Dubai guna meminta bantuan penanganan.
Kepala Desa Cililin, Tedy Kusniadi, membenarkan bahwa Sri merupakan warga Kampung Sukatani, RT 03 RW 05, Desa Cililin. Menurut Tedy, keluarga telah menyampaikan kronologi kejadian dan menempuh sejumlah upaya untuk mencari pertolongan.
“Pihak keluarga sudah menyampaikan kronologinya. Mereka juga telah membuat laporan ke Disnaker Kabupaten Bandung Barat dan berkomunikasi dengan KBRI di Dubai,” kata Tedy saat dihubungi, Senin, 12 Oktober 2026.
Diduga Berada dalam Penguasaan Seseorang
Berdasarkan informasi yang diterima keluarga, Sri diduga berada dalam penguasaan seseorang asal Cianjur yang disebut-sebut berperan sebagai germo. Dugaan tersebut turut menjadi perhatian setelah percakapan antara Sri dan keluarganya melalui aplikasi pesan singkat beredar di media sosial.
Tedy menjelaskan, sebelum kejadian itu, Sri diketahui bekerja pada sebuah keluarga di Dubai. Namun, setelah tiga hari bekerja, Sri memutuskan melarikan diri karena tidak tahan dengan sikap majikannya yang dinilai keras.
Menurut informasi yang diterima pihak desa, Sri kemudian bertemu dengan seseorang asal Cianjur setelah melarikan diri dari tempat kerjanya.
“Nah, pas kabur, korban kemudian bertemu dengan orang asal Cianjur ini. HP sudah diambil sama orang tersebut,” ujar Tedy.
Informasi tersebut masih berupa keterangan yang disampaikan pihak desa berdasarkan laporan keluarga. Dugaan penyekapan maupun keterlibatan pihak lain dalam kasus ini masih perlu ditelusuri lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Keluarga Khawatir dengan Keselamatan Korban
Kekhawatiran keluarga semakin meningkat setelah menerima informasi bahwa Sri sempat mengungkapkan ancaman bunuh diri apabila dirinya diperjualbelikan.
Tedy mengatakan, komunikasi antara Sri dan keluarga pada awalnya masih berjalan normal. Namun, belakangan keluarga mulai mencurigai adanya tekanan yang dialami Sri karena gaya bahasa dalam percakapan dinilai berbeda dari biasanya.
“Terakhir kontak akhir bulan September,” kata Tedy.
Terputusnya komunikasi tersebut membuat keluarga semakin khawatir terhadap kondisi dan keselamatan Sri yang saat ini berada di luar negeri.
Keluarga Minta Bantuan Pemerintah
Pihak keluarga kini berupaya meminta bantuan berbagai pihak agar keberadaan Sri dapat diketahui dan proses pemulangannya ke Indonesia bisa dilakukan.
Selain melaporkan kasus tersebut kepada Disnaker Kabupaten Bandung Barat dan berkomunikasi dengan KBRI di Dubai, keluarga juga telah meminta bantuan kepada Bupati Bandung Barat serta Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
“Sudah ke Disnaker, berupaya untuk ke KDM, sudah lapor ke Bupati (Kabupaten Bandung Barat) juga,” tutur Tedy.(KURASI)
Baca juga: