Waspada! BRIN Sebut Kadar Polutan Kota Bandung Diatas Normal

Ilustrasi Kota Bandung dikelilingi pegungungan. (sumber:pexels/irma sjachlan)
Facebook
X
Threads
Email
WhatsApp

Kurasi, Bandung –  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kadar salah satu polutan atau zat sumber polusi udara yang berbahaya bagi kesehatan yaitu PM2.5 di Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat berada di atas normal nasional.

Hal itu merupakan hasil penelitian kelompok riset Metode Analitik Nuklir (MAN) Pusat Riset Teknologi Analisis Berkas Nuklir (PRTABN) Organisasi Riset Tenaga Nuklir (ORTN) BRIN yang memantau polusi udara selama satu tahun, dari Juni 2022 hingga Mei 2023.

“PM2.5 merupakan partikel udara berukuran sangat kecil yang berbahaya bagi kesehatan. Karena ukurannya halus, partikel ini dapat masuk ke paru-paru bahkan ke aliran darah. Paparan polusi PM2.5 dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, gangguan jantung, hingga kematian dini. Oleh karena itu, kualitas udara di kawasan perkotaan perlu dipantau secara serius, terutama di wilayah dengan aktivitas masyarakat yang padat,” ujar Peneliti Ahli Muda PRTABN BRIN,  Feni Fernita Nurhaini, dalam keterangannya di laman BRIN ditulis Bandung, Rabu (30/9/2026).

Tim peneliti di kelompok riset BRIN tersebut melakukan pemantauan kualitas udara di Kawasan Tamansari, Bandung, berbasis sensor PurpleAir (PA-II) yang dibandingkan dengan alat referensi standar  pemantauan udara berbasis filter, Super Speciation Air Sampling System (SuperSASS).

Feni Fernita Nurhaini, menjelaskan hasil pengukuran menunjukkan rata-rata konsentrasi PM2.5 di kota Bandung selama periode sampling mencapai 31,51 µg/m³ menggunakan SuperSASS. Sedangkan dengan PurpleAir mencapai 39,04 µg/m³. Angka tersebut melebihi batas rata-rata tahunan pemerintah Indonesia, yaitu 15 µg/m³.

“Pada pagi dan malam hari, emisi kendaraan cukup tinggi. Selain itu, kondisi udara yang lebih stabil membuat polutan lebih mudah tertahan di sekitar permukaan,” jelas Feni.

Pernjelasan Feni itu mengacu kepada pola waktu peningkatan polusi udara di Bandung-Tamansari. Konsentrasi PM2.5 tercatat paling tinggi pada pagi hari pukul 06.00 hingga 08.00 WIB, kemudian kembali meningkat pada malam hari pukul 18.00 hingga 23.00 WIB. Waktu tersebut bertepatan dengan jam sibuk saat masyarakat berangkat kerja, sekolah, dan pulang beraktivitas.

Selain faktor waktu, musim juga mempengaruhi kadar polusi udara. Saat musim kemarau, konsentrasi PM2.5 di Bandung cenderung meningkat. Sebaliknya, pada musim hujan kadar polusi menurun karena partikel di udara terbantu turun bersama air hujan.

“Berdasarkan hasil penelitian, periode dengan konsentrasi PM2.5 tertinggi terjadi pada Juli dan Agustus 2022, sedangkan nilai terendah tercatat pada Januari dan Februari 2023 saat curah hujan lebih tinggi,” ungkap Feni.

Tim peneliti BRIN berharap penelitian ini dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pengendalian polusi udara.

Kebijakan tersebut antara lain mendorong penggunaan transportasi umum, pengurangan pembakaran sampah, penghijauan kota, serta pemantauan kualitas udara di lebih banyak titik.

“Jika tidak ditangani sejak dini, polusi udara berisiko terus meningkat seiring pertumbuhan jumlah kendaraan, populasi penduduk dan aktivitas perkotaan,” sebut Feni.

*Jawa Barat jadi Provinsi Tertinggi Kasus ISPA*

Sementara itu, Peneliti Pusat Riset Sains Data dan Informasi (PRSDI) BRIN, Irfan Asfy Fakhry, mengatakan Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tertinggi di Indonesia pada 2023.

Sehingga, diperlukan pendekatan analitik yang mampu menangkap variasi spasial dan temporal secara bersamaan yakni metode statistik yang digunakan untuk mempelajari kejadian-kejadian yang terjadi secara acak dalam ruang, waktu, atau keduanya.

“Pendekatan spasio-temporal memungkinkan identifikasi pola musiman dan wilayah dengan risiko tinggi secara lebih akurat, sehingga mendukung pengambilan kebijakan kesehatan yang lebih responsif,” jelas Irfan dalam forum diskusi Pekanan Internal PRSDI, Rabu (20/5/2026).

Hasil pendekatan ini menyatakan faktor lingkungan seperti suhu, kelembaban, curah hujan, radiasi matahari, serta polutan udara memiliki pengaruh terhadap penyebaran penyakit pernapasan.

Berdasarkan pemetaan risiko yang dilakukan, beberapa wilayah menunjukkan tingkat risiko relatif tertinggi pada periode tertentu, diantaranya Sumedang pada bulan Juli, Kabupaten Bandung pada bulan Agustus, dan Ciamis pada bulan Juni. Sedangkan, Kabupaten Subang tercatat memiliki nilai Standardized Incidence Ratio (SIR) tertinggi pada September 2023.

“Penelitian ini bertujuan membangun model spasio-temporal untuk memperkirakan risiko ISPA di Jawa Barat, dengan mengintegrasikan variabel iklim dan polusi udara menggunakan pendekatan Bayesian Integrated Nested Laplace Approximation (INLA),” terang Irfan.

Irfan menjelaskan penelitian juga membandingkan empat konfigurasi model, yaitu BYM1–RW1, BYM1–RW2, BYM2–RW1, dan BYM2–RW2 untuk memperoleh model terbaik dalam memetakan distribusi risiko ISPA secara geografis dan temporal.

Selain itu, penelitian ini memanfaatkan kasus ISPA 2023 berdasarkan data dari Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS). Kemudian dipetakan berdasarkan kode dari ICD-10 untuk ISPA (J00–J06) yang dipadukan data lingkungan dan kualitas udara dari satelit NASA GES DISC.

“Analisis penelitian menggunakan model Bayesian berbasis distribusi Negative Binomial dengan pendekatan INLA untuk menangkap variasi spasial dan tren temporal kasus ISPA di 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat,” ungkap Irfan.

Irfan menyebut hasil penelitian menunjukkan model BYM2–RW2 menjadi model terbaik karena memiliki nilai Deviance Information Criterion (DIC) terendah, sehingga dinilai paling optimal dalam menyeimbangkan kompleksitas model dan ketepatan prediksi.

Selain itu, dari penelitian yang dilakukan, tim menemukan polutan SO2 dan O3 berpengaruh positif dan signifikan terhadap peningkatan kasus ISPA. Sedangkan suhu menunjukkan pengaruh negatif terhadap peningkatan kasus penyakit tersebut.

“Temuan ini menegaskan kualitas udara dan kondisi iklim berperan penting dalam peningkatan risiko ISPA di Jawa Barat,” sebut  Irfan.

Irfan mengatakan penelitian ini merupakan kolaborasi bersama mahasiswa S1 Universitas Pertahanan RI, yang tergabung dalam Magang Riset BRIN pada 2025.

Hasil penelitian sudah dipublikasikan di International Conference on Computer, Control, Informatics and its Applications, Jakarta, Indonesia tahun 2025.

Baca juga : 

Fenomena Blue Fire di Kawah Gunung Papandayan: Proses, Lokasi, dan Tips Aman